KURIKULUM TK ISLAM DAN TPA

KURIKULUM TK ISLAM DAN TPA

I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Upaya untuk menyempurnakan kurikulum TPA dan TK Islam terus-menerus dilaksanakan sebagai tahap awal menuju kualitas pendidikan anak.

Di dalam tahap ke dua dan seterusnya; insya Allah akan disusun buku-buku/ muqoror TPA dan TK Islam maupun mengadopsi yang telah ada dengan penyesuaian-penyesuaian yang dipandang perlu; uji coba penerapan kurikulum serta sosialisasi Kurikulum dan GBPPnya kepada masyarakat yang memerlukan.

Langkah-langkah pokok yang ditempuh di dalam menyusun kurikulum tersebut, sebagai berikut:

Perumusan Tujuan-Tujuan TPA dan TK Islam.

Penentuan Struktur Program Kurikulum.

Penyusunan Garis-Garis Besar Program Pengembangan.

Penyusunan dan Penggunaan Satuan Pelajaran; Pedoman Penilaian (Evaluasi) dan Pedoman Administrasi dan Supervisi (Manajemen).

Penyusunan Pedoman Sistem Pembelajaran TPA dan TK Islam.
(Butir 4 dan 5 di atas dikelompokkan ke dalam Pedoman Khusus Kurikulum).

Program atau Menu TK Islam dan TPA.

Dan berbagai hal penjelasan yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum.

(Butir 1; 2; 3 dan 7 di atas dikelompokkan ke dalam Pedoman Umum Kurikulum). Dan butir 6 dirumuskan di dalam bagian tersendiri.

2. Bentuk Rumusan Kurikulum

Untuk kepentingan efisiensi dan mudahnya mengakses seluruh produk kurikulum TK Islam dan TPA, maka kurikulum yang dikembangkan YAYASAN AL-SOFWA ini dikemas menjadi satu buku yang diberi judul Panduan Pengembangan Kurikulum TK Islam dan TPA.
Adapun sistematika isi pokok buku ini yakni:

Bagian I Karakteristik Anak Usia Pra Sekolah.

Bagian II Visi dan Misi Pendidikan Islam.

Bagian III Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam.

Bagian IV Pedoman Umum Kurikulum TK Islam dan TPA.

Bagian V Pedoman Khusus Kurikulum TK Islam dan TPA.

Bagian VI Menu/ Program TK Islam dan TPA.

II KANDUNGAN KURIKULUM TK ISLAM DAN TPA

Bagian I Karakteristik Anak Usia Pra Sekolah-Sekolah Dasar

Bagian I ini penting untuk diketengahkan di dalam Bab II, disebabkan subyek didik (pada umumnya anak usia pra sekolah–sekolah dasar) adalah mereka yang menjadi sentral program pendidikan dan perhatian kurikulum ini. Sehingga substansi kurikulum yang dirumuskan ini dan yang dikembangkan di dalam tataran paksis (praktek di lapangan) pun harus senantiasa disesuaikan dengan dunia anak. Oleh karena itu, pengetahuan akan karakteristik anak harus senantiasa segar di dalam benak setiap orang yang berinteraksi dengan mereka.

Pemahaman tentang tahap-tahap perkembangan anak, dapat mengarahkan pendidik memiliki kesanggupan di dalam memberikan pelayanan atau perlakuan yang sesuai dengan irama perkembangan dan pertumbuhan anak, sesuai dengan jiwa anak. Akhirnya, anak akan terhindar dari perlakuan yang tidak pada tempatnya (dzalim).

Setiap anak, memiliki irama pertumbuhan dan perkembangan masing-masing yang terkadang memerlukan perlakuan yang amat khusus. Walau demikian, secara umum, mereka memiliki ciri atau karakteistik pertumbuhan dan perkembangan yang hampir sama untuk tahap-tahap perkembangan dan pertumbuhan tertentu. Berdasar karakteristik yang umum tersebut, para orang tua dan setiap orang yang berinteraksi dengan anak dapat menyiapkan diri untuk mengarahkan dan membimbing mereka.

Adapun yang dimaksud dengan pertumbuhan di dalam pembahasan ini yakni adanya perubahan fisik/ tubuh anak ke arah penyempurnaannya. Sedangkan istilah perkembangan merupakan perubahan psikhis (kejiwaan) ke arah penyempurnaannya.

Adapun karakteristik anak usia para sekolah – sekolah dasar yang dimaksudkan adalah sebagai berikut :

1. MASA OROK (lahir-21 bulan).

Allah Ta’ala telah berfirman,

وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاَثُونَ شَهْرًا

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkan dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan ” (QS. Al Ahqaaf :15).

Berdasarkan ayat di atas, dapat dikirakan bahwa masa orok adalah selama 21 bulan (30 bulan-9 bulan kandungan). Masa orok ini dinamakan pula masa penyusuan. Karakteristik yang menonjol pada masa ini yakni ketidakberdayaan orok, baik fisik maupun mental (psikhis/ kejiwaannya), terutama masa 4 bulan yang pertama.

Implikasi terhadap Proses Pendidikan:

Orang tua dituntut memiliki kesabaran, ketekunan, keikhlasan dan daya sensitif tinggi. Mengingat pada masa ini, orok sepenuhnya tergantung kepada orang tuanya.

Pada usia lahir-4 bulan, anak tidak sanggup mengomunikasikan apa yang dikehendakinya, dirasakan dan problematikanya. Satu-satunya cara mengungkapkan apa yang terjadi pada dirinya dan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkannya yakni dengan cara menangis. Akan tetapi, terdapat pula anak tertentu, lebih sering diam, walaupun dirinya mengalami kesulitan.

Tangisan orok sebagai wujud komunikasi dengan dunia luar terkadang dan memang tidak mengenal waktu dan keadaan orang tuanya. Ia menuntut orang tuanya, agar mengetahui keadaan dirinya (mengapa menangis? Ada apa? Bagaimana mengatasinya ?).

Kesabaran dan ketekunan merupakan modal utama agar terjalin hubungan yang harmonis dengan anak dan antar orang tua (suami-istri). Tanpa modal tersebut, kehadiran anak sebagai rahmat Allah Ta’ala, dianggap/ dirasakan sebagai beban. Kesabaran, ketekunan, keikhlasan dan semangat yang tinggi disertai cinta kasih terhadap amanat Allah Ta’ala, akan membuat suasana rumah tangga penuh barokah, insya Allah.

Apabila orang tua memiliki kemampuan cukup dari segi materi, pada usia anak 1-7 hari, sebaiknya lakukan cara-cara berikut ini (ini sunnah Rasulullah) :

Anak ditahnik (dibersihkan mulutnya dengan makanan yang lunak dan manis/ korma, setelah dikunyah oleh orang yang tinggi ketaqwaannya).

Anak diberi nama yang baik, pada hari ke tujuh (sebaik-baik nama yakni Abdullah dan Abdul Rohman).

Anak dicukur rambutnya, lalu rambut tersebut ditimbang dengan perak (emas), lalu harga atas berat rambut (uangnya) dishodaqohkan kepada fakir miskin. Pekerjaan ini dilakukan pada hari ke tujuh.

Pada hari yang ke tujuh pula (yang utama), lakukan aqiqah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallama,
“Tiap-tiap bayi tergadai pada aqiqahnya. Aqiqah itu disembelih atas namanya pada hari ke tujuh dan hari itu pula dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. An Nasa’i).
alsofwah.or.id

Sumber:
diambil dari immasjid.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s